Bagaimana HR Manager Turut Berperan Dalam Perusahaan Modern Kerja sekarang, hasilnya untuk anak cucu
Sudah terbiasa dan sering kita dengar istilah ‘New Paradigm’. Apa implikasi terhadap organisasi kita yang notabene adalah organisasi usaha. CARA PANDANG BARU (‘New Paradigm’) kita terhadap masa depan bisnis yang kita tekuni selama ini akan sangat berpengaruh terhadap cara kerja kita sehari-hari.
“Bayangkan perusahaan ini 10 tahun lagi”, kata CEO. Atau kenapa tidak 100 tahun lagi? Pada masa mendatang itu bukan saja kita sudah tidak ada (kecuali ada keajaiban), akan tetapi juga yg menjalankan usaha ini adalah cucu kita, mungkin cicit kita. Itu pasti secara rasional. Implikasinya adalah, BAGAIMANA SAAT INI KITA BANGUN ORGANISASI USAHA INI AGAR BERTAHAN SELAMA-LAMANYA, untuk anak cucu kita bisa meneruskannya dengan lebih baik-mudah-cepat-cerdik selain murah ( BETTER – EASIER – FASTER – SMARTER, also CHEAPER). Implikasinya menjadi jelas karena kita bukan hanya memikirkan keuntungan semata-mata.
Loyalitas adalah suatu kata yang sangat disukai oleh para pengusaha bila memandang karyawannya. Pengusaha mengartikan loyalitas adalah suatu kesetiaan karyawannya kepada dia, kepada atasan, atau perusahaannya.
Sebaliknya, karyawan merasa asing dengan istilah loyalitas itu, sebagian justru tidak mamandang loyalitas adalah suatu kesetiaan mati kepada perusahaan tempat dimana dia bekerja. Generasi angkatan kerja semakin ke sini, semakin mengenal perusahaan tempat kerja adalah suatu tempat dimana dia hanya harus bekerja dengan baik sesuai peraturan, ada hak – ada kewajiban, tak lebih.
Dengan demikian ada suatu kesenjangan pengertian tentang loyalitas, sementara para karyawan masih banyak yang tidak memiliki satu prinsip bagaimana dia menjaga profesionalismenya.
Asal: “Creating Sustainable Competitive Advantage Through People and Culture”
Gunter Stahl, Hal 85, Bab 13
Buku: HRD for Developing States and Companies
Keunggulan organisasi menjadi puncak dari segala usaha dalam mencapai tujuan. Keunggulan menjadi aspek usaha paling penting mengingat setiap organisasi ingin memenangkan persaingan untuk menjadi pemenang.
Tidak asing lagi bahwa organisasi mencapai tujuannya melalui pendayagunaan kompetensi orang orangnya. Tidak kalah pentingnya juga bahwa nilai unggul organisasi dibentuk melalui keunikan dalam budayanya.
Bagaimana organisasi atau perusahaan mencapai sukses melalui pengelolaan orang (PEOPLE) dan budaya (CULTURE), saya akan mengajak pembaca untuk memperhatikan bagaimana organisasi organisasi yang dikenal sukses telah mengelola orang dan budaya organisasinya itu.
Menjadi kecenderungan setiap organisasi saat ini untuk mengarahkan fungsi MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia) bukan hanya semata mata menjalankan fungsi sebagai pos pembiayaan, melainkan menjadi pendorong atau pengarah pencapaian prestasi dan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. Penelitian oleh Mark Huselid dalam The Workforce Scorecard: Managing Human Capital to Execute Strategy, 2005, membuktikan bahwa prestasi tinggi organisasi diciptakan melalui praktek MSDM yang berbeda pelaksanaannya dibanding dengan praktek di organisasi yang berprestasi rendah.
Berdasar penelitian itu, Jeff Pfeffer dari Harvard Business School, menyimpulkan ada 7 praktek MSDM yang secara efektif mampu memperbaiki prestasi organisasi. Read More
Berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan perusahaan bukan tergantung semata mata kepada satu orang saja, namun dari kerjasama team, maka implementasi pengelolaan SDM akan efektif dijalankan berdasarkan kombinasi penempatan kekuatan anggota team.
Keberhasilan suatu perusahaan bukan ditentukan oleh kehebatan seorang SUPERMAN. Melainkan ditentukan oleh kekuatan sebuah SUPERTEAM. Berikut adalah pemikiran dan pengalaman Pande N. Agus Jaya, yang disarikan oleh saya.
Adalah seorang Pande N. Agus Jaya, yang telah berhasil dengan kegigihannya selama 3 tahun terakhir ini menggali dan mengembangkan suatu sistem pengelolaan SDM yang disebut TBHRM (Talent-Based HR Management), atau Pengelolaan SDM Berbasis Talenta. Talenta tidak sama dengan Kompetensi. Talenta tidak sama dengan Minat. Talenta adalah Keunggulan unik yang dimiliki oleh seseorang & Anugerah dari Yang Maha Kuasa, sehingga pasti bermanfaat.
Pelatih profesional kelas dunia dalam membangun kekuatan kesebelasannya selalu mencetak kipper kelas dunia, back kelas dunia, libero kelas dunia, pengumpan kelas dunia, & striker kelas dunia, termasuk juga “penjegal” kelas dunia.
Bagaimana kekuatan sebuah team sepakbola jika pelatih team tersebut dalam mengasah kemampuan seluruh pemainnya diarahkan untuk menjadi PENCETAK GOAL saja? Read More
Tuhan adalah Sang Sumber Energi. Energi-Nya tidak memiliki stigma dan prasangka buruk terhadap manusia. Semua akan dibagikan sebanyak yang manusia inginkan dan semampu mereka menampungnya.
Tidak ada anak emas. Seorang nabi dapat curahan energi-Nya lebih banyak karena mereka sanggup menerimanya. Seandainya seluruh makhluk di alam semesta ini berlomba mendapatkan curahan energi-Nya, maka energi itu tidaklah akan pernah habis, bahkan tidak berkurang sedikitpun.
Tuhan akan terus menerus menjadi sumber yang melimpah tiada henti. Menyalurkan berbagai bentuk energi positif kepada hamba-Nya. Hanya saja sumber energi positif itu disalurkan melalui proses, yakni melalui ‘gardu-gardu perantara’ agar kita sanggup menerimanya.
“Gardu-gardu perantara’ itu adalah kita, manusia yang mendiami bumi ini. Bagi manusia yang ingin mendapatkan kemuliaan dan kebaikan sebanyak mungkin dari Tuhan maka jadilah Gardu Energi Positif (Gardu Epos). Semakin besar Gardu Epos yang kita siapkan, semakin banyak energi yang bisa kita salurkan kepada orang lain. Dan yang pasti, semakin besar Gardu Epos kita maka semakin dekat kita kepada Sang Maha Pencipta.
Salah satu contoh Gardu Epos dunia saat ini adalah M. Yunus. Dia seorang dosen di Bangladesh. Terdorong oleh keprihatinannya dengan kemiskinan di Bangladesh, M. Yunus memberikan pinjaman 20 sen untuk
menolong seorang ibu melepaskan diri dari hutang rentenir. Ternyata Ibu yang bernama Sophia Kathon itu lancar mengembalikan pinjaman senilai 20 sen dari M. Yunus. Read More