<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ir. Urip Sedyowidodo, MM &#187; Tips</title>
	<atom:link href="http://www.uripsedyowidodo.com/category/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.uripsedyowidodo.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2009 03:04:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>MENGELOLA PEKERJA SECARA EFEKTIF</title>
		<link>http://www.uripsedyowidodo.com/mengelola-pekerja-secara-efektif/</link>
		<comments>http://www.uripsedyowidodo.com/mengelola-pekerja-secara-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 11:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Urip</dc:creator>
				<category><![CDATA[HRD]]></category>
		<category><![CDATA[Kinerja]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uripsedyowidodo.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[“Jangan Naikkan Gajinya!” oleh: Urip Sedyowidodo Yuhhuuu… I like this Friday! Hari ini adalah hari terakhir bulan ini, hari gajian bagi semua pekerja. Seperti biasa, setiap bulan, siapapun dia orangnya, asal dia adalah pekerja, hari ini adalah hari yang menyenangkan, apalagi hari Jumat deh, akhir minggu yang sungguh tak boleh dilewatkan. Setelah sebulan penuh bekerja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>“Jangan Naikkan Gajinya!”</em></p>
<p>oleh: Urip Sedyowidodo</p>
<p>Yuhhuuu… I like this Friday!</p>
<p>Hari ini adalah hari terakhir bulan ini, hari gajian bagi semua pekerja. Seperti biasa, setiap bulan, siapapun dia orangnya, asal dia adalah pekerja, hari ini adalah hari yang menyenangkan, apalagi hari Jumat deh, akhir minggu yang sungguh tak boleh dilewatkan.<br />
Setelah sebulan penuh bekerja, setelah kewajiban dan kelelahan menetes bermandi keringat. Setelah ketegangan itu berlalu, maka mari lepaskan semua lelah dan dahaga, nikmati bahagia yang tak akan terulang besok pagi.</p>
<p>Meski lusa harus mulai lagi bersusah payah, kembali bekerja dan bergumul dengan kelelahan, hari ini tetap saja bahagia, karena gaji sudah diterima.</p>
<p>Begitulah irama pekerja, lagu yang didendangkan akan berirama rata setiap bulannya. Kadang ada nada tinggi, kadangkala rendah tak bertepi, disela senandung gumam dalam hati….semua berlalu dengan rutin dan seperti tanpa henti. Setiap awal bulan seperti hari baru, di tengah bulan hati dan pikiran mulai berkerut, dan di akhir bulan saku baju kembali kusut. Begitu terus irama itu didendangkan, semakin lama semakin sama, tawar dan hambar.</p>
<p><strong>MAKNA PEKERJAAN BAGI PEKERJA</strong><br />
Pekerja memang menjadi kenyataan, bahwa ini adalah istilah yang mencerminkan sebuah kepayahan. Seperti tak punya pilihan, dia ada di kasta rendah yang susah diajak senang, atau menyerah karena garis tangan. Itulah nasib, kata sebagian besar mereka. Ini adalah kebutuhan karena kami butuh uang untuk hidup, makan dan tempat tinggal, begitu kata mereka. Mereka pahami pekerjaan seperti sebuah kewajiban.</p>
<p>Bayangkan, setiap hari datang ke tempat kerja hanya untuk melaksanakan perintah atasan. Memang atasan kerjaannya cuma memerintah ya? Lalu apa hak pekerja sebagai bawahan. Mungkin atasan dianggap sebagai wakil pengusaha, menjadi “pemerintah”, tukang merintah aja!<br />
Kalau pekerja salah, atasan tinggal tereak-tereak memarahi pekerjanya. Payah nian nasib pekerja ini. Bangun pagi rajin bekerja mengikuti disiplin aturan kantor, di depan atasan hanya dapat omelan. Nasiib…. Nasib!</p>
<p>Jadi pekerjaan itu sekedar melaksanakan perintah sebagai kewajiban, atau ibadah?</p>
<p>Banyak pekerja rajin dan patuh bekerja hanya karena mengganggap ini adalah sebuah kewajiban yang pantang untuk dilanggar, sebagian kecil memaknai pekerjaan sebagai ibadah yang artinya kepatuhan, dan hanya sebagian sangat kecil sangat memahami pekerjaan sebagai sebuah hak hidupnya.</p>
<p><strong>ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN </strong><br />
Sebagaian sangat kecil pekerja yang memaknai pekerjaan sebagai ibadah dalam kerangka hak nya sebagai umat manusia, melihat pekerjaan sebagai sebuah kesempatan.</p>
<p>Kesempatan yang kalau disia-siakan akan hilang dan menjadi manusia yang merugi.</p>
<p>Manusia-manusia pekerja seperti ini bermental juara, karena itu dia selalu mencari peluang untuk maju dan berlatih, agar kompensasinya bertambah besar.</p>
<p><em>Bersambung…</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uripsedyowidodo.com/mengelola-pekerja-secara-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KUTU LONCAT</title>
		<link>http://www.uripsedyowidodo.com/kutu-loncat/</link>
		<comments>http://www.uripsedyowidodo.com/kutu-loncat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 15:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Urip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uripsedyowidodo.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang hobinya berpindah-pindah kerja. Mereka ini disebut Kutu loncat. Meski ada sisi positifnya, sisi negatif-nya pun harus dicermati sebelum Anda memutuskan menjadi seorang kutu loncat&#8230; Dewi resah. Dia merasa, pekerjaannya yang sekarang tak lagi menarik minatnya. Padahal, belum genap dua tahun ia menekuni pekerjaan sebagai staf keuangan di perusahaan itu. Ia pun kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang yang hobinya berpindah-pindah kerja. Mereka ini disebut Kutu loncat. Meski ada sisi positifnya, sisi negatif-nya pun harus dicermati sebelum Anda memutuskan menjadi seorang kutu loncat&#8230;</p>
<p><span id="more-17"></span>Dewi resah. Dia merasa, pekerjaannya yang sekarang tak lagi menarik minatnya. Padahal, belum genap dua tahun ia menekuni pekerjaan sebagai staf keuangan di perusahaan itu. Ia pun kembali menelusuri halaman lowongan di koran-koran. Akhirnya, sebuah perusahaan asing menariknya untuk bergabung. Namun, belum lama menempati kantor barunya, Dewi kembali resah. Tak betah. Akhirnya, ia memenuhi panggilan wawancara dengan sebuah perusahaan Asing lain.</p>
<p>Begitu terus-menerus, Dewi meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, seolah tak juga ada tempat berkarier yang pas. Sementara orang mengeluh betapa susahnya mencari kerja, bagi orang-orang seperti Dewi, yang sering disebut para kutu loncat, keluhan seperti itu tak berlaku.</p>
<p>Fakta menunjukkan, tak sedikit orang yang memang punya &#8220;hobi&#8221; berpindah-pindah kerja seperti Dewi. Mereka merasa tak lagi kerasan bekerja. Akhirnya, mereka mencoba mencari jalan keluar. Bagi yang suka mengambil risiko, pindah kerja bisa menjadi alternatif yang jauh lebih gampang dibandingkan mencoba mengatasi permasalahan di perusahaan yang sekarang.</p>
<p>Banyak hal yang bisa jadi penyebab seorang karyawan memutuskan berpindah kerja. Setidaknya, ada empat alasan paling populer mengapa seseorang memutuskan berpindah kerja:</p>
<p><strong>1. Pekerjaan tak lagi menantang<br />
</strong>Ketika seorang kutu loncat memutuskan bergabung dengan sebuah perusahaan, mungkin ia membayangkan akan memperoleh tantangan kerja yang selama ini ia idam-idamkan. Misalnya perusahaan itu belum punya sistem kerja yang mapan, produknya potensial tapi tidak laku di pasar, dan sebagainya.</p>
<p>Permasalahan-permasalahan ini tentu sangat mengasyikkan bagi mereka Yang kreatif dan suka bekerja keras. Tapi, ketika semua tantangan tadi berangsur-angsur hilang, sistem kerja sudah jalan atau image produk sudah mulai menancapkan di benak pelanggan, maka kesempatan untuk berkreasi pun dirasakan berkurang. Kerja menjadi sesuatu yang tidak lagi menarik dan membosankan. Akhirnya, mereka pun memutuskan pindah.</p>
<p><strong>2. Tidak cocok dengan atasan<br />
</strong>Faktor atasan sangat berperan penting dalam sistem kerja di suatu perusahaan. Banyak karyawan yang lebih tergantung pada perilaku atasan dibanding pada perlakuan perusahaan secara umum terhadap karyawannya. Tentunya ini sangat subyektif, karena atasan yang cocok untuk si A Belum tentu cocok untuk si B, demikian pula sebaliknya. Biasanya, atasan yang emosional menduduki peringkat pertama kategori atasan yang tidak disukai.</p>
<p><strong>3. Rumput tetangga lebih hijau<br />
</strong>Maksudnya adalah iming-iming memperoleh penghasilan yang lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperoleh saat ini. Meski penghasilan seringkali bukan merupakan faktor utama yang menjadi latar belakang seseorang bekerja, tetapi kenyataannya, uang tetap menjadi alasan menarik untuk memutuskan mencari pekerjaan baru.</p>
<p><strong>4. Lingkungan kerja tidak nyaman<br />
</strong>Alasan lingkungan kerja tidak nyaman lebih banyak dikeluhkan oleh wanita, bahkan konon, wanita lebih rentan terganggu oleh masalah hubungan kerja dibandingkan pekerjaannya sendiri. Ini tentu tidak lepas dari sifat wanita yang lebih afektif (kecenderungan menggunakan perasaan) dibandingkan pria.</p>
<p>Selain keempat alasan tadi, tentu masih ada alasan-alasan lain, misalnya memiliki hubungan khusus dengan sesama karyawan beda jenis dan tidak berakhir happy end, atau jarak tempat kerja yang dirasa terlalu jauh dari rumah, dan sebagainya.</p>
<p><strong>DICAP TAK LOYAL<br />
</strong>Menjadi kutu loncat tentu sah-sah saja. Namun, perlu diperhitungkan betul, apakah Anda memang cocok dengan pola berpindah-pindah pekerjaan seperti itu. Berikut beberapa tips jika Anda termasuk seorang kutu loncat:</p>
<ul>
<li>Lihatlah tujuan jangka panjang Anda</li>
</ul>
<p>Sejak awal, Anda harus menetapkan rencana karier Anda, apa yang ingin anda capai, tahap-tahap apa yang harus Anda lalui, dan berapa lama anda harus mencapai tahapan tersebut. Bila tawaran pekerjaan baru ternyata mengikuti atau bahkan mempercepat tujuan Anda, tak ada salahnya untuk mempertimbangkannya. Tetapi, bila tawaran baru belum  jelas arahnya atau bahkan hanya sekadar pelampiasan ketidaknyamanan anda di pekerjaan sekarang, sebaiknya pikir-pikir kembali rencana untuk pindah pekerjaan.</p>
<ul>
<li>Apakah bidang pekerjaan Anda mendukung?</li>
</ul>
<p>Jenis pekerjaan atau profesi juga mempengaruhi aman-tidaknya Anda meloncat. Bila Anda seorang spesialis di bidang yang lapangan kerjanya sangat terbatas, banyak orang yang mempunyai profesi sama dengan Anda, sebaiknya pertimbangkan lebih jauh tawaran pekerjaan baru itu. Pasalnya, bila Anda ternyata tidak betah di tempat kerja yang baru, maka Anda akan pusing lagi menemukan pekerjaan baru.</p>
<p>Sebaliknya, jika memang bidang yang Anda kuasai termasuk bidang langka dan dibutuhkan, maka Anda punya keleluasaan lebih untuk membuat keputusan.</p>
<ul>
<li>Apakah ini benar-benar merupakan solusi permasalahan?</li>
</ul>
<p>Apabila Anda sedang merasa tidak nyaman bekerja di tempat sekarang, cobalah pertimbangkan sekali lagi, apakah tempat kerja baru merupakan jalan keluar dari permasalahan Anda. Jika belum tentu, cobalah cari, apakah ada hal-hal lain di tempat baru yang memberi keuntungan lain, dalam bentuk apa keuntungan itu, dan seberapa banyak risikonya.</p>
<p>Tulislah semuanya dan analisa dengan matang, sehingga Anda mempunyai alasan yang memang kuat untuk berpindah.</p>
<ul>
<li>Apakah Anda tipe orang yang mudah menyesuaikan diri?</li>
</ul>
<p>Seperti sudah disinggung di atas, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru butuh ketekunan tersendiri. Bila Anda bermasalah dengan penyesuaian diri, maka berpindah-pindah kerja hanya akan mengundang stres. Jadi, pikirkan baik-baik.</p>
<ul>
<li>Terlalu sering pindah bisa dicap tidak loyal.</li>
</ul>
<p>Berpindah-pindah kerja boleh-boleh saja, tapi juga jangan terlalu sering. Ada yang memberi istilah &#8220;penyakit dua tahunan&#8221; bagi si Kutu Loncat, karena rata-rata hanya dua tahun ia betah di satu pohon (perusahaan). Hati-hati, ini bisa mendatangkan persepsi bahwa Anda bukan tipe orang yang loyal pada perusahaan. Dan satu saat kelak, orang akan berpikir dua kali untuk merekrut Anda.</p>
<ul>
<li>Bina hubungan baik.</li>
</ul>
<p>Teman adalah harta yang mahal, jadi tetaplah bina hubungan dengan mereka, baik secara pribadi maupun secara profesi. Membina hubungan secara pribadi berarti tetap berteman baik, terlepas dari status kekaryawanannya, sedangkan membina hubungan dalam konteks profesi adalah menjaga hubungan baik sebagai seorang karyawan. Menjaga hubungan dalam konteks profesi berarti juga tetap membina hubungan baik dengan perusahaan lama tempat Anda bekerja.</p>
<p>Ada sejumlah kode etik tidak tertulis yang harus dipenuhi untuk menjaga hubungan baik dengan perusahaan lama, misalnya tidak merebut klien/pelanggan, tidak membocorkan rahasia perusahaan, tidak mencemarkan nama baik, dan sebagainya.</p>
<p>Jadi, meski menjadi kutu loncat bisa menjadi pilihan, namun kenyataan menunjukkan, kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak berharap akan terus-menerus seperti itu. Setelah merasa letih, akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa penghasilan akan selalu dirasa kurang, dan problema di tempat kerja manapun akan selalu sama, tentu dengan jenis dan kadar stress berbeda-beda. Sekarang coba berintrospeksi, apakah Anda memang tipe orang yang sulit merasa puas sebagai karyawan?</p>
<p>Meski tak selalu menyenangkan, menjadi kutu loncat memiliki sejumlah sisi positif, antara lain:</p>
<ul>
<li>Punya banyak teman</li>
</ul>
<p>Dengan sering berpindah kerja, pergaulan kita menjadi semakin luas. Kita juga tidak ketinggalan informasi, karena mempunyai banyak nara sumber. Jika kita pandai menjaga hubungan dengan orang lain, maka pada saat kita butuh bantuan, banyak pihak yang bisa Anda dihubungi.</p>
<ul>
<li>Punya beragam pengalaman</li>
</ul>
<p>Setiap jenis perusahaan mempunyai nuansa yang berbeda satu sama lain, misalnya antara perusahaaan manufaktur dengan perusahaan jasa, antara perusahaan asing dengan perusahaan lokal, dan sebagainya. Berbagai pengalaman yang dirasakan oleh mereka yang sering berpindah kerja tentu akan memperkaya wawasan.</p>
<ul>
<li>Perbaikan di sisi finansial</li>
</ul>
<p>Berpindah-pindah kerja bisa membuat penghasilan seseorang meningkat dengan cepat, meskipun tidak selalu demikian. Pada umumnya, seseorang akan mempunyai batas minimal nilai kenaikan gaji sebelum bersedia pindah ke perusahaan lain. Pasalnya, jika peningkatan gaji tidak terlalu besar, maka ini tentu tidak sesuai dengan risiko yang bakal dijalani, seperti penyesuaian diri yang lama atau bahkan risiko tidak betah ditempat yang baru.</p>
<p>Akan tetapi, di samping hal-hal yang menyenangkan, ada juga hal-hal yang akhirnya membuat si Kutu Loncat merasa letih. Biasanya, mereka mengeluhkan perubahan suasana yang menuntut penyesuaian diri terus-menerus. Ingat, rata-rata, setiap enam bulan hingga setahun pertama masa kerja adalah masa seseorang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru.</p>
<p>Penyesuaian diri, baik dengan atasan, teman kerja, maupun sistem kerja, terkadang cukup menguras energi. Nah, bila Anda sering berpindah kerja, otomatis penyesuaian ini juga kerap harus Anda lalui. Jadi, coba pikir-pikir lagi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uripsedyowidodo.com/kutu-loncat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TIPS: MENGEMBANGKAN MEDIA KOMUNIKASI</title>
		<link>http://www.uripsedyowidodo.com/tips-mengembangkan-media-komunikasi/</link>
		<comments>http://www.uripsedyowidodo.com/tips-mengembangkan-media-komunikasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 15:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Urip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uripsedyowidodo.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[“Ciptakanlah komunikasi cair segala arah, dan dapatkan samudra hati silaturahmi penuh damai” Dalam berkomukasi dikenal adanya 2 cara, Formal dan Informal, juga 2 arah dari Manajemen ke Karyawan atau sebaliknya. Jika 2 cara dan 2 arah komunikasi tersebut diperpotongkan sehingga terbentuk matriks, maka akan terdapat 4 kuadran cara dan arah komunikasi. Sifat komunikasi Formal adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Ciptakanlah komunikasi cair segala arah, dan dapatkan samudra hati silaturahmi penuh damai”</p>
<p>Dalam berkomukasi dikenal adanya 2 cara, Formal dan Informal, juga 2 arah dari Manajemen ke Karyawan atau sebaliknya. Jika 2 cara dan 2 arah komunikasi tersebut diperpotongkan sehingga terbentuk matriks, maka akan terdapat 4 kuadran cara dan arah komunikasi.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-full wp-image-15 aligncenter" title="tips-komunikasi" src="http://www.uripsedyowidodo.com/wp-content/uploads/2008/04/tips-komunikasi.jpg" alt="" width="500" height="383" /></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-16"></span></p>
<p>Sifat komunikasi Formal adalah regular, terencana dan proaktif. Sedangkan dalam komunikasi Informal lebih bersifat tak terduga, tanpa rencana, spontan dan reaktif.</p>
<p>Sifat komunikasi Informal yang tak terkendali semacam ini, umumnya menjadi akar penyebab ketidakseimbangan hubungan internal di dalam organisasi yang pada gilirannya dapat berimbas negatif pada sisi eksternal organisasi dan tentu saja berdampak pada nilai-nilai lain dalam organisasi yang kelak akan dirasakan buruk bagi seluruh stakeholders.</p>
<p>Salah satu unsur penting dalam berkomunikasi adalah Karyawan, maka perhatikanlah:<br />
a.    Dengarkan Karyawan, apapun yang mereka sampaikan jadilah pendengar yang baik.<br />
b.    Beri informasi sebenarnya, Karyawan ingin pula mendengarkan kabar yang benar.<br />
c.    Libatkan Karyawan, jangan lupa mengikutsertakan Karyawan dalam persoalan mereka.<br />
d.    Cara komunikasi yang benar, pilih media yang sesuai kebutuhan bersama.<br />
e.    Dialog, berkomunikasi 2 arah menciptakan kejernihan suasana.<br />
f.    Fokus, berkomunikasilah pada pusat persoalan, sehingga efektif memanfaatkan media.</p>
<p>Sebenarnya ada banyak contoh kejadian kegagalan komunikasi internal yang menyebabkan tidak sehatnya pertumbuhan hubungan antar dan intern sebuah organisasi. Bahkan lebih banyak kejadian kegagalan di dunia nyata sekitar kita dibandingkan contoh-contoh keberhasilan sistem komunikasi yang dibangun dalam sebuah organisasi. Di tempat dimana hubungan internal tercipta sehat, maka sistem komunikasi internal yang berhasil selalu dibangun dengan sengaja. Namun tidak berhenti disitu saja, sebab aplikasi sebuah sistem komunikasi dalam dunia nyata menjadi kunci utama keberhasilan membangun sehatnya hubungan internal antar anggota dan bagian dalam organisasi tersebut.</p>
<p>Jadi, ciptakanlah sistem komunikasi internal dalam organisasi Anda, misalnya dengan beberapa cara dan arah sebagai berikut:<br />
1.    Survey Pendapat Karyawan, media tertulis dan verbal 2 arah yang memiliki daya jangkauan paling luas dan obyektif, apalagi dilakukan anonim. Pengalaman penulis setelah melakukannya beberapa kali di beberapa jenis perusahaan, menghasilkan banyak temuan tak terduga yang dapat membantu menyusun banyak program HR yang kontributif terhadap pencapaian tujuan bisnis perusahaan tersebut.<br />
2.    Forum Terbuka, media verbal 2 arah yang membuka sumbat-sumbat komunikasi birokratis mencair dan menjernihkan issue-issue destruktif dalam organisasi. Pengalaman penulis ketika bertugas memimpin sebuah Corporate HR Department, memberi banyak peluang belajar dan mempertajam sensitifitas baik terhadap perkembangan organisasi maupun perhatian persoalan-persoalan kolektif para karyawan.<br />
3.    Media Kolektif Tertulis, bentuknya beragam, misalnya Mading (Majalah Dinding), dan Buletin yang berisi berita-berita sukses pencapaian target penjualan – informasi produk baru – curah pendapat/pengetahuan karyawan – sampai dengan interaksi tanya jawab dengan Manajer HR atas issue kepersonaliaan internal. Di sini, lagi-lagi terbuka peluang bagi atasan terutama Manajer HR upaya saling mempertajam kemampuan komunikatif. Penulis beruntung berkesempatan mempraktekkannya di tempat yang telah mengenal LAN, maka e-discussion, adalah media interaktif yang real-time dan menantang.<br />
4.    Media Individual Tertulis, biasanya berbentuk Individual Suggestion System, sumbang saran individu Karyawan atas satu persoalan yang terjadi berulang di lingkungan tempat kerjanya. Ada banyak alternatif media yang bisa dikaitkan dengan sistem penilaian prestasi maupun penghargaan unik atas saran yang aplikatif.<br />
5.    Kebersamaan, telah banyak dilakukan di banyak organisasi, misalnya Outing/Gathering, mencakup kegiatan informil terencana yang merangkul segenap lapisan Karyawan bahkan ada yang mengikutsertakan keluarga. Kedekatan suasana kekeluargaan yang tercipta biasanya berdampak konstruktif langsung pada pengambilan keputusan bisnis sehari-hari.<br />
6.    Prosedur keluh kesah, satu media sangat penting yang banyak kita lupakan. Melalui prosedur ini seorang Karyawan memiliki jaminan dan juga keberanian mengemukakan pendapat obyektiv dan terbuka ke atasan tanpa rasa segan. Disebut prosedur karena ada tatacaranya yang dijamin oleh ketentuan ketenagakerjaan kita. Melakukan ini sangatlah mudah dan akan ringan manakala 5 media pertama sebelumnya telah terlaksana.</p>
<p>Itu semua diluar apa yang telah biasa dan baik Anda lakukan, yang juga merupakan bentuk media komunikasi, misalnya: SK Direksi, Pengumuman, Rapat regular, Memo instruksi/pemberitahuan, SOP (Standard Operating Procedure), Program orientasi Karyawan Baru, Evaluasi rencana tahunan, Presentasi proposal proyek baru, Regular visit atasan ke anggota timnya sehari-hari, Coaching, sampai dengan PE (Performance Evaluation) yang digunakan sebagai satu bentuk umpan balik atasan-bawahan.</p>
<p>Ketika semua media komunikasi tersebut dapat sukses terlaksana berkala atas dasar rencana, maka tak urung organisasi dapat mencapai tujuan bersama-sama anggotanya, karena dukungan sepenuh hati dari tumbuh sehatnya loyalitas para anggota tim dalam organisasi itu sendiri.</p>
<p>Tak terkecuali SURAT KALENG, tak bisa dipungkiri, ini adalah satu bentuk media komunikasi, ketika suasana hubungan internal mandeg oleh tatanan beku birokratik, haru biru oleh banjir gossip dan carut marut berebut panjang jilatan lidah kepada ‘sang penguasa’ di pucuk pimpinan organisasi.</p>
<p>Mana yang akan Anda pilih, hati Anda lebih tahu menjawabnya. Siapa yang berperan memimpin, Anda terutama para Manajer HR. Milikilah hati, dan limpahkan jawaban Anda melalui kreasi penciptaan media komunikasi di sekitar Anda.<em><br />
</em></p>
<p><em>Jakarta, 20 April 2003, artikel orisinil diterbitkan di Majalah SWA.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uripsedyowidodo.com/tips-mengembangkan-media-komunikasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah lulus pendidikan tinggi, mau kemana?</title>
		<link>http://www.uripsedyowidodo.com/setelah-lulus-pendidikan-tinggi-mau-kemana/</link>
		<comments>http://www.uripsedyowidodo.com/setelah-lulus-pendidikan-tinggi-mau-kemana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 08:18:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Urip</dc:creator>
				<category><![CDATA[HRD]]></category>
		<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.uripsedyowidodo.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Persiapan wawancara kerja&#8230; Apa saja…..? Pernah membayangkan setelah lulus kuliah ini anda mau kemana? Mau kuliah Pasca? Mau melamar bekerja dimana? Mau jadi pengusaha saja? Atau mau dilamar saja…? Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan anda harus menetukan pilihan jalan hidup setelah ini. Jalan hidup sebagai awal masa depan atau anda memaksa diri berhenti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persiapan wawancara kerja&#8230; Apa saja…..?</p>
<p>Pernah membayangkan setelah lulus kuliah ini anda mau kemana? Mau kuliah Pasca? Mau melamar bekerja dimana? Mau jadi pengusaha saja? Atau mau dilamar saja…?</p>
<p>Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan anda harus menetukan pilihan jalan hidup setelah ini. Jalan hidup sebagai awal masa depan atau anda memaksa diri berhenti begitu saja. Tak ada terminal untuk itu, hidup terus bergulir mengikuti putaran bola dunia yang tak henti di sini.</p>
<p>Cukupkah persiapan anda untuk itu? Apa misi hidup anda sebenarnya? Pernahkah terpikir dalam benak anda perlunya memiliki misi pribadi? Syukurlah jika telah memilikinya, namun tidak ada kata terlambat untuk memulainya sekarang.</p>
<p><span id="more-14"></span><br />
<strong>Misi pribadi</strong><br />
Tentukan tujuan dari langkah anda setelah lulus, apa dan bagaimana meraihnya dari 3 hal ini:</p>
<ul>
<li>Karir</li>
<li>Uang</li>
<li>Studi lanjutan</li>
</ul>
<p>Ini bukanlah urutan prioritas, anda yang menentukan poin mana, salah satu dari tiga hal itu yang akan anda raih terlebih dahulu. Ada yang memilih karir dulu, sebab uang akan mengikuti kemudian. Ada pula yang memilih menjadi pedagang saja sebab uang jadi prioritas diraih lebih dulu sebanyak-bayaknya, baru kemudian ada biaya untuk studi lanjutan. Apapun prioritasnya, anda sendiri yang menentukan tergantung misi pribadi anda.</p>
<p><strong>Melamar untuk Karir</strong><br />
Bilamana pilihan anda setelah lulus adalah melamar kerja di satu tempat yang anda idamkan, apa saja yang perlu anda persiapkan?<br />
<strong>1. Surat Lamaran Kerja<br />
</strong>Membuat surat lamaran perlu diperhatikan:</p>
<ul>
<li>Perusahaan yang dituju sedang membuka lowongan pekerjaan</li>
<li>Tuliskan dengan jelas alamat yang dituju, bila sudah mengenal jangan salah menuliskan ejaan nama pemimpin perusahaan</li>
<li>Sebutkan jabatan yang anda lamar</li>
<li>Perkenalkan dengan singkat identitas anda dan aktivitas anda setahun terakhir ini</li>
<li>Sebutkan alamat dan nomor telpon kemana perusahaan akan memanggil anda dengan segera</li>
<li>Jangan lupa tanggal dan tanda tangan asli sebagaipenutup surat</li>
</ul>
<p><strong>2. Memenuhi Panggilan Tes<br />
</strong></p>
<ul>
<li>Jaga kesehatan adalah bagian terpenting</li>
<li>Istirahat/tidur cukup sehari sebelum pelaksanaan tes</li>
<li>Kenali lokasi tes sehari sebelumnya, sehingga pada saatnya anda tidak menghabiskan waktu mencari-cari alamat lokasinya</li>
<li>Berangkat lebih awal akan lebih baik, jangan biarkan perut kosong mengganggu saat tes nanti, makanlah dulu secukupnya</li>
<li>Jangan lupa membawa identitas dan surat panggilan tes, juga alat tulis yang diperlukan</li>
</ul>
<p><strong>3.    Memenuhi Panggilan Wawancara<br />
</strong></p>
<ul>
<li>Jaga kesehatan adalah bagian terpenting</li>
<li>Kenali lokasi wawancara</li>
<li>Catat dengan jelas sebelumnya, dengan siapa anda akan temui untuk wawancara</li>
<li>Jaga penampilan, berpakian pantas, rapi dan bersih akan membantu menjaga suasana saat wawancara</li>
<li>Beri salam dan berjabat tangan dengan sopan</li>
<li>Tatap mata pewawancara pada saat anda menjawab</li>
<li>Jawab semua pertanyaan tidak bertele-tele, langsung pada poinnya</li>
<li>Volume cukup terdengar dan intonasi suara jelas dan tegas</li>
<li>Ceritakan pengalaman anda, bukan teori atau pengalaman orang lain</li>
<li>Bertanyalah saat diberikan waktu terakhir untuk bertanya</li>
</ul>
<p><strong>4. Pertanyaan tentang Gaji<br />
</strong>Biasanya pewawancara bertanya atau anda diminta mengisi formulir isian lamaran kerja: “berapa gaji yang anda minta?”.<br />
Jawablah/isilah dengan angka berapa gaji yang anda harapkan. Dengan ini sebetulnya anda sedang diminta menentukan nilai pribadi anda sesuai dengan keahlian atau latar belakang pendidikan/ pengalaman anda sebelumnya.</p>
<p>Sebelum meninggalkan tempat wawancara, jangan lupa menanyakan proses selanjutnya, kapan anda diminta kembali datang atau anda diminta menunggu surat panggilan berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.uripsedyowidodo.com/setelah-lulus-pendidikan-tinggi-mau-kemana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
