KUTU LONCAT

Banyak orang yang hobinya berpindah-pindah kerja. Mereka ini disebut Kutu loncat. Meski ada sisi positifnya, sisi negatif-nya pun harus dicermati sebelum Anda memutuskan menjadi seorang kutu loncat…

Dewi resah. Dia merasa, pekerjaannya yang sekarang tak lagi menarik minatnya. Padahal, belum genap dua tahun ia menekuni pekerjaan sebagai staf keuangan di perusahaan itu. Ia pun kembali menelusuri halaman lowongan di koran-koran. Akhirnya, sebuah perusahaan asing menariknya untuk bergabung. Namun, belum lama menempati kantor barunya, Dewi kembali resah. Tak betah. Akhirnya, ia memenuhi panggilan wawancara dengan sebuah perusahaan Asing lain.

Begitu terus-menerus, Dewi meloncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain, seolah tak juga ada tempat berkarier yang pas. Sementara orang mengeluh betapa susahnya mencari kerja, bagi orang-orang seperti Dewi, yang sering disebut para kutu loncat, keluhan seperti itu tak berlaku.

Fakta menunjukkan, tak sedikit orang yang memang punya “hobi” berpindah-pindah kerja seperti Dewi. Mereka merasa tak lagi kerasan bekerja. Akhirnya, mereka mencoba mencari jalan keluar. Bagi yang suka mengambil risiko, pindah kerja bisa menjadi alternatif yang jauh lebih gampang dibandingkan mencoba mengatasi permasalahan di perusahaan yang sekarang.

Banyak hal yang bisa jadi penyebab seorang karyawan memutuskan berpindah kerja. Setidaknya, ada empat alasan paling populer mengapa seseorang memutuskan berpindah kerja:

1. Pekerjaan tak lagi menantang
Ketika seorang kutu loncat memutuskan bergabung dengan sebuah perusahaan, mungkin ia membayangkan akan memperoleh tantangan kerja yang selama ini ia idam-idamkan. Misalnya perusahaan itu belum punya sistem kerja yang mapan, produknya potensial tapi tidak laku di pasar, dan sebagainya.

Permasalahan-permasalahan ini tentu sangat mengasyikkan bagi mereka Yang kreatif dan suka bekerja keras. Tapi, ketika semua tantangan tadi berangsur-angsur hilang, sistem kerja sudah jalan atau image produk sudah mulai menancapkan di benak pelanggan, maka kesempatan untuk berkreasi pun dirasakan berkurang. Kerja menjadi sesuatu yang tidak lagi menarik dan membosankan. Akhirnya, mereka pun memutuskan pindah.

2. Tidak cocok dengan atasan
Faktor atasan sangat berperan penting dalam sistem kerja di suatu perusahaan. Banyak karyawan yang lebih tergantung pada perilaku atasan dibanding pada perlakuan perusahaan secara umum terhadap karyawannya. Tentunya ini sangat subyektif, karena atasan yang cocok untuk si A Belum tentu cocok untuk si B, demikian pula sebaliknya. Biasanya, atasan yang emosional menduduki peringkat pertama kategori atasan yang tidak disukai.

3. Rumput tetangga lebih hijau
Maksudnya adalah iming-iming memperoleh penghasilan yang lebih tinggi dibanding penghasilan yang diperoleh saat ini. Meski penghasilan seringkali bukan merupakan faktor utama yang menjadi latar belakang seseorang bekerja, tetapi kenyataannya, uang tetap menjadi alasan menarik untuk memutuskan mencari pekerjaan baru.

4. Lingkungan kerja tidak nyaman
Alasan lingkungan kerja tidak nyaman lebih banyak dikeluhkan oleh wanita, bahkan konon, wanita lebih rentan terganggu oleh masalah hubungan kerja dibandingkan pekerjaannya sendiri. Ini tentu tidak lepas dari sifat wanita yang lebih afektif (kecenderungan menggunakan perasaan) dibandingkan pria.

Selain keempat alasan tadi, tentu masih ada alasan-alasan lain, misalnya memiliki hubungan khusus dengan sesama karyawan beda jenis dan tidak berakhir happy end, atau jarak tempat kerja yang dirasa terlalu jauh dari rumah, dan sebagainya.

DICAP TAK LOYAL
Menjadi kutu loncat tentu sah-sah saja. Namun, perlu diperhitungkan betul, apakah Anda memang cocok dengan pola berpindah-pindah pekerjaan seperti itu. Berikut beberapa tips jika Anda termasuk seorang kutu loncat:

  • Lihatlah tujuan jangka panjang Anda

Sejak awal, Anda harus menetapkan rencana karier Anda, apa yang ingin anda capai, tahap-tahap apa yang harus Anda lalui, dan berapa lama anda harus mencapai tahapan tersebut. Bila tawaran pekerjaan baru ternyata mengikuti atau bahkan mempercepat tujuan Anda, tak ada salahnya untuk mempertimbangkannya. Tetapi, bila tawaran baru belumĀ  jelas arahnya atau bahkan hanya sekadar pelampiasan ketidaknyamanan anda di pekerjaan sekarang, sebaiknya pikir-pikir kembali rencana untuk pindah pekerjaan.

  • Apakah bidang pekerjaan Anda mendukung?

Jenis pekerjaan atau profesi juga mempengaruhi aman-tidaknya Anda meloncat. Bila Anda seorang spesialis di bidang yang lapangan kerjanya sangat terbatas, banyak orang yang mempunyai profesi sama dengan Anda, sebaiknya pertimbangkan lebih jauh tawaran pekerjaan baru itu. Pasalnya, bila Anda ternyata tidak betah di tempat kerja yang baru, maka Anda akan pusing lagi menemukan pekerjaan baru.

Sebaliknya, jika memang bidang yang Anda kuasai termasuk bidang langka dan dibutuhkan, maka Anda punya keleluasaan lebih untuk membuat keputusan.

  • Apakah ini benar-benar merupakan solusi permasalahan?

Apabila Anda sedang merasa tidak nyaman bekerja di tempat sekarang, cobalah pertimbangkan sekali lagi, apakah tempat kerja baru merupakan jalan keluar dari permasalahan Anda. Jika belum tentu, cobalah cari, apakah ada hal-hal lain di tempat baru yang memberi keuntungan lain, dalam bentuk apa keuntungan itu, dan seberapa banyak risikonya.

Tulislah semuanya dan analisa dengan matang, sehingga Anda mempunyai alasan yang memang kuat untuk berpindah.

  • Apakah Anda tipe orang yang mudah menyesuaikan diri?

Seperti sudah disinggung di atas, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru butuh ketekunan tersendiri. Bila Anda bermasalah dengan penyesuaian diri, maka berpindah-pindah kerja hanya akan mengundang stres. Jadi, pikirkan baik-baik.

  • Terlalu sering pindah bisa dicap tidak loyal.

Berpindah-pindah kerja boleh-boleh saja, tapi juga jangan terlalu sering. Ada yang memberi istilah “penyakit dua tahunan” bagi si Kutu Loncat, karena rata-rata hanya dua tahun ia betah di satu pohon (perusahaan). Hati-hati, ini bisa mendatangkan persepsi bahwa Anda bukan tipe orang yang loyal pada perusahaan. Dan satu saat kelak, orang akan berpikir dua kali untuk merekrut Anda.

  • Bina hubungan baik.

Teman adalah harta yang mahal, jadi tetaplah bina hubungan dengan mereka, baik secara pribadi maupun secara profesi. Membina hubungan secara pribadi berarti tetap berteman baik, terlepas dari status kekaryawanannya, sedangkan membina hubungan dalam konteks profesi adalah menjaga hubungan baik sebagai seorang karyawan. Menjaga hubungan dalam konteks profesi berarti juga tetap membina hubungan baik dengan perusahaan lama tempat Anda bekerja.

Ada sejumlah kode etik tidak tertulis yang harus dipenuhi untuk menjaga hubungan baik dengan perusahaan lama, misalnya tidak merebut klien/pelanggan, tidak membocorkan rahasia perusahaan, tidak mencemarkan nama baik, dan sebagainya.

Jadi, meski menjadi kutu loncat bisa menjadi pilihan, namun kenyataan menunjukkan, kebanyakan dari mereka sebenarnya tidak berharap akan terus-menerus seperti itu. Setelah merasa letih, akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa penghasilan akan selalu dirasa kurang, dan problema di tempat kerja manapun akan selalu sama, tentu dengan jenis dan kadar stress berbeda-beda. Sekarang coba berintrospeksi, apakah Anda memang tipe orang yang sulit merasa puas sebagai karyawan?

Meski tak selalu menyenangkan, menjadi kutu loncat memiliki sejumlah sisi positif, antara lain:

  • Punya banyak teman

Dengan sering berpindah kerja, pergaulan kita menjadi semakin luas. Kita juga tidak ketinggalan informasi, karena mempunyai banyak nara sumber. Jika kita pandai menjaga hubungan dengan orang lain, maka pada saat kita butuh bantuan, banyak pihak yang bisa Anda dihubungi.

  • Punya beragam pengalaman

Setiap jenis perusahaan mempunyai nuansa yang berbeda satu sama lain, misalnya antara perusahaaan manufaktur dengan perusahaan jasa, antara perusahaan asing dengan perusahaan lokal, dan sebagainya. Berbagai pengalaman yang dirasakan oleh mereka yang sering berpindah kerja tentu akan memperkaya wawasan.

  • Perbaikan di sisi finansial

Berpindah-pindah kerja bisa membuat penghasilan seseorang meningkat dengan cepat, meskipun tidak selalu demikian. Pada umumnya, seseorang akan mempunyai batas minimal nilai kenaikan gaji sebelum bersedia pindah ke perusahaan lain. Pasalnya, jika peningkatan gaji tidak terlalu besar, maka ini tentu tidak sesuai dengan risiko yang bakal dijalani, seperti penyesuaian diri yang lama atau bahkan risiko tidak betah ditempat yang baru.

Akan tetapi, di samping hal-hal yang menyenangkan, ada juga hal-hal yang akhirnya membuat si Kutu Loncat merasa letih. Biasanya, mereka mengeluhkan perubahan suasana yang menuntut penyesuaian diri terus-menerus. Ingat, rata-rata, setiap enam bulan hingga setahun pertama masa kerja adalah masa seseorang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang baru.

Penyesuaian diri, baik dengan atasan, teman kerja, maupun sistem kerja, terkadang cukup menguras energi. Nah, bila Anda sering berpindah kerja, otomatis penyesuaian ini juga kerap harus Anda lalui. Jadi, coba pikir-pikir lagi.

Filed under: Tips

1 Response

  1. Steven Says:

    Tambahan tip yang lebih penting menjadi kutu lompat ada baiknya buat mencari pengahasilan yang lebih, dengan catatan mempunyai background yang kuat pada bidangnya, jika sudah merasa siap pakai silahkan saja anda mencari yang lebih baik, karena prinsip yang mendasar bukan mencari pekerjaan bagi seorang propesianal akan tetapi mencari uang( perbaikan finansial) namun kalau hanya mencari pekerjaan banyak di Indonesia dengan catatan terima apa ada itu yang terjadi di negara kita yang notabenenya standar gaji paling kecil , lalu yang menjadi pertanyaan apa kita mau hanya menjadi pekerja yang di anggap loyal saja?… berapa penghasilan yang anda terima dan apa sudah merasa puas ?…. tentu jawabanya tidak……karena semua manusia inggin mencari selalu yang terbaik.(jadilah kutu lompat yang propesional) bukan menjadi kutu lompat hanya sebagai pelarian dari masalah yang ada pada pribadi kita.

    Posted on November 26th, 2009 at 3:27 am

Leave a Reply