MENGELOLA PEKERJA SECARA EFEKTIF

“Jangan Naikkan Gajinya!”

oleh: Urip Sedyowidodo

Yuhhuuu… I like this Friday!

Hari ini adalah hari terakhir bulan ini, hari gajian bagi semua pekerja. Seperti biasa, setiap bulan, siapapun dia orangnya, asal dia adalah pekerja, hari ini adalah hari yang menyenangkan, apalagi hari Jumat deh, akhir minggu yang sungguh tak boleh dilewatkan.
Setelah sebulan penuh bekerja, setelah kewajiban dan kelelahan menetes bermandi keringat. Setelah ketegangan itu berlalu, maka mari lepaskan semua lelah dan dahaga, nikmati bahagia yang tak akan terulang besok pagi.

Meski lusa harus mulai lagi bersusah payah, kembali bekerja dan bergumul dengan kelelahan, hari ini tetap saja bahagia, karena gaji sudah diterima.

Begitulah irama pekerja, lagu yang didendangkan akan berirama rata setiap bulannya. Kadang ada nada tinggi, kadangkala rendah tak bertepi, disela senandung gumam dalam hati….semua berlalu dengan rutin dan seperti tanpa henti. Setiap awal bulan seperti hari baru, di tengah bulan hati dan pikiran mulai berkerut, dan di akhir bulan saku baju kembali kusut. Begitu terus irama itu didendangkan, semakin lama semakin sama, tawar dan hambar.

MAKNA PEKERJAAN BAGI PEKERJA
Pekerja memang menjadi kenyataan, bahwa ini adalah istilah yang mencerminkan sebuah kepayahan. Seperti tak punya pilihan, dia ada di kasta rendah yang susah diajak senang, atau menyerah karena garis tangan. Itulah nasib, kata sebagian besar mereka. Ini adalah kebutuhan karena kami butuh uang untuk hidup, makan dan tempat tinggal, begitu kata mereka. Mereka pahami pekerjaan seperti sebuah kewajiban.

Bayangkan, setiap hari datang ke tempat kerja hanya untuk melaksanakan perintah atasan. Memang atasan kerjaannya cuma memerintah ya? Lalu apa hak pekerja sebagai bawahan. Mungkin atasan dianggap sebagai wakil pengusaha, menjadi “pemerintah”, tukang merintah aja!
Kalau pekerja salah, atasan tinggal tereak-tereak memarahi pekerjanya. Payah nian nasib pekerja ini. Bangun pagi rajin bekerja mengikuti disiplin aturan kantor, di depan atasan hanya dapat omelan. Nasiib…. Nasib!

Jadi pekerjaan itu sekedar melaksanakan perintah sebagai kewajiban, atau ibadah?

Banyak pekerja rajin dan patuh bekerja hanya karena mengganggap ini adalah sebuah kewajiban yang pantang untuk dilanggar, sebagian kecil memaknai pekerjaan sebagai ibadah yang artinya kepatuhan, dan hanya sebagian sangat kecil sangat memahami pekerjaan sebagai sebuah hak hidupnya.

ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN
Sebagaian sangat kecil pekerja yang memaknai pekerjaan sebagai ibadah dalam kerangka hak nya sebagai umat manusia, melihat pekerjaan sebagai sebuah kesempatan.

Kesempatan yang kalau disia-siakan akan hilang dan menjadi manusia yang merugi.

Manusia-manusia pekerja seperti ini bermental juara, karena itu dia selalu mencari peluang untuk maju dan berlatih, agar kompensasinya bertambah besar.

Bersambung…

Filed under: HRD, Kinerja, Tips

Leave a Reply