Pekerjaanku Ibadahku

  • bekerja karena harus hidup
  • hidup untuk makan
  • apakah bekerja juga mengejar prestasi
  • bagaimana berprestasi dalam bekerja
  • mengenali kekuatan pribadi
  • mengasah kekuatan
  • meniti jenjang karir

oleh: Urip Sedyowidodo

PEKERJAANKU IBADAHKU
Setiap orang pada saat pertama kalinya memulai bekerja, awalnya dari melamar pekerjaan. Saat itu yang terpikir adalah “pokoknya dapat pekerjaan”. Apapun pekerjaan yang ditawarkan pasti diterima dengan perasaan senang, entah apa jadinya kelak, yang penting kerja dulu.
Yang penting kerja dulu, yang penting dapat uang untuk bisa menunjukkan kepada diri sendiri, disadari atau tidak, juga menunjukkan kepada orang lain bahwa dengan gajian nanti, maka kita dapat memenuhi segala impian kita tentang hidup ini. Mau beli makan, pakaian, kelak beli rumah tempat tinggal, mau melanjutkan sekolah lagi mau nikah mau keliling dunia bahkan mau berfoya-foya.

Jadi, bekerja untuk hidup, dan hidup untuk makan.

Pada tahap selanjutya, pekerja mulai merasa ada persaingan dengan rekan kerjanya sendiri. “ wah si fulan sudah punya mobi baru padahal dia masuk mulai bekerja dengan waktu dan cara dan bagian yang sama persis dengan aku”, begitu desah seorang pekerja melihat sukses kasat mata rekannya sendiri. Kalau seseorang mulai resah melihat sukses orang lain lalu memicu gairah kerjanya semakin tinggi, bersyukurlah karena itu artinya ada gellitik tak tertahankan pada keyakinan akan maju untuk bekerja keras, lebih keras, ssngat keras dan untuk meraih prestasi setinggi mungkin.

Ternyata bekerja memicu gairah berprestasi seorang pekerja, untuk terus maju meraih tempat lebih tinggi, meraup sukses sebanyak mungkin. Bagaimana dong caranya..?

Banyak cara orang untuk meraih posisi jabatan dan kekayaan harta semakin tinggi dan semakin banyak. Paling gampang dan umum, semua orang sepakat, “kerja keras dong!”.

Apa artinya keras, kalau kita belum siap. Apa maksudnya kerja keras, kalau hanya sekedar melihat fenomena P4, pergi pagi pulang petang. Kita kadang terjebak paa kenyataan banyak orang yang tampak rajin berangkat kerja setelah subuh seperti pak tani, dan pulang tatkala malam sudah menjelang. Nah jenis pekerja seperti ini adalah orang-orang yang tak pernah menikmati hangat dan manfaatnya sinar pagi sang matahari, serta indahnya lukisan sang Khalik karena semburat sinar lembayung matahari sore.

Jadi kalau kita mau berprestasi, tampaknya kita harus memahami apa yang bisa kita kembangkan sebagai modal dari dalam diri kita. Menjadi penting untuk kita harus mengenali siapa diri kita, apa kekuatan dari dalam diri kita.

Percaya tidak, sang Maha Pencipta menciptakan umat manusia sebagai khalifah di bumi bukan untuk merusak makhluk ciptaanNya yang lain. Tentu itu adalah anugerah yang ada dan tertanam di dalam diri kita. Kalau begitu, mari kita gali, mulai dengan menyadari bahwa manusia tidak sempurna, artinya ada bagian di mana kita memiliki sisi kekuatan dalam diri kita. Kenalilah potensi kekuatan diri kita.
Lalu? Layaknya sebuah kapak, asahlah sisi bagian tajamnya, dan sang kapak akan bekerja dengan lebih baik memotong kayu untuk si tukang kayu. Begtu pula kekuatan diri pekerja, asahlah, gunakan kekuatan, bukan sibuk memikirkan kelemahan.

Bayangkan ketika seorang pekerja rajin, bukan semata untuk tampak sibuk dari pagi hingga malam hari, namun sibuk mengasah kekuatannya dalam prestasi kerja, maka tak ayal lagi karir sudah menanti di depannya.

SUKSES!

Tulisan yang menggugah Mas Urip…..salam kenal…and keep blogging and sharing…….

Leave a Comment