Tantangan Baru bagi HRD Profesional: MEMBANGUN SUPERTEAM DENGAN TBHRM
Berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan perusahaan bukan tergantung semata mata kepada satu orang saja, namun dari kerjasama team, maka implementasi pengelolaan SDM akan efektif dijalankan berdasarkan kombinasi penempatan kekuatan anggota team.
Keberhasilan suatu perusahaan bukan ditentukan oleh kehebatan seorang SUPERMAN. Melainkan ditentukan oleh kekuatan sebuah SUPERTEAM. Berikut adalah pemikiran dan pengalaman Pande N. Agus Jaya, yang disarikan oleh saya.
Adalah seorang Pande N. Agus Jaya, yang telah berhasil dengan kegigihannya selama 3 tahun terakhir ini menggali dan mengembangkan suatu sistem pengelolaan SDM yang disebut TBHRM (Talent-Based HR Management), atau Pengelolaan SDM Berbasis Talenta. Talenta tidak sama dengan Kompetensi. Talenta tidak sama dengan Minat. Talenta adalah Keunggulan unik yang dimiliki oleh seseorang & Anugerah dari Yang Maha Kuasa, sehingga pasti bermanfaat.
Pelatih profesional kelas dunia dalam membangun kekuatan kesebelasannya selalu mencetak kipper kelas dunia, back kelas dunia, libero kelas dunia, pengumpan kelas dunia, & striker kelas dunia, termasuk juga “penjegal” kelas dunia.
Bagaimana kekuatan sebuah team sepakbola jika pelatih team tersebut dalam mengasah kemampuan seluruh pemainnya diarahkan untuk menjadi PENCETAK GOAL saja?
HRD Profesional adalah ibarat Pelatih profesional kelas dunia dalam rangka membangun the Superteam. Ada pergeseran paradigma dari mencetak pemimpin masa depan ke membangun kompetensi perusahaan (=team), yang terdiri atas Leaders & Specialists dengan komposisi populasi 20% untuk Leaders dan 80% untuk tenaga Spesialist.
Tantangannya, bagaimana membangun Leaders & Specialists Kelas Dunia ?
Start dari mencari The Right Potential Candidate untuk para leader dan para specialist, Mencari Potential Candidate, yang berarti harus melihat pada kapasitas dari POTENTIAL TALENT-nya
Mengapa harus Talent-Based HRM? Sebab pada era saat ini yang disebut High Competitive Era, perusahaan harus melakukan Survival to the Fittest, untuk itu tidak ada pilihan lain harus Focus, oleh karena itulah sudah saatnya HRD Profesional berpaling pada pilihan mencari Talent.
Fokus pada telanta, akan meningkatkan 3 aspek yaitu Speed (Orang yang beraktivitas pada Talent-nya memiliki kemampuan belajar yang lebih cepat), Productivity and Precision (Orang yang beraktivitas pada Talent-nya mampu bekerja lebih cepat dan menghasilkan kualitas output yang lebih baik), dan Longevity and Attendance (Orang yang beraktivitas pada Talent-nya bisa bertahan lebih lama serta tidak “mangkir” dari tugasnya).
Tiga asumsi lama yang salah adalah berfokus pada Weakness, yang percaya bahwa 1.Semua orang bisa sukses menjadi pemimpin perusahaan. 2.Semua perilaku pemimpin yang sukses bisa dipelajari. 3.Memperbaiki kelemahan kita akan mendorong menuju Kesuksesan.
Sedangkan efektifitas pengelolaan SDM yang lebih tepat adalah berfokus pada Strengths , terletak pada tiga asumsi bahwa 1.Orang bisa menjadi yang terbaik pada bidangnya. 2.Beberapa perilaku sukses memang bisa dipelajari, namun banyak perilaku yang hampir tidak mungkin dipelajari. Ada perbedaan antara Bakat dengan Keahlian & Pengetahuan. 3.Mengatasi kelemahan adalah untuk mencegah kegagalan. Kesuksesan dicapai dengan membangun keunggulan yang telah dimilikinya.
Apa bedanya dengan Competence-Based HRM? CBHRM fokus kepada Attitude & Behavior. Orientasinya Memotret faktor-faktor sukses dari Role Model, kemudian merekrut, men-develop, dan meng-encourage semua orang untuk memiliki karakteristik sesuai dengan faktor-faktor sukses tersebut. Sehingga Strategi dalam PEOPLE DEVELOPMENT-nya berpusat pada Faktor faktor Sukses external. Men-develop semua orang sehingga memiliki karakeristik sesuai dengan faktor-faktor sukses tersebut.
Sedangkan TBHRM berfokus pada Potential Talent yang bersangkutan yang merupakan faktor internal. Men-develop orang tersebut secara terfokus sesuai dengan Potential Talent-nya hingga memiliki kompetensi sampai level kelas dunia.
TBHRM yang dikembangkan Pande berbeda dengan pengertian yang telah banyak dipakai, sebab fokus lain pada pengelolaan SDM di perusahaan dimana Pande bekerja, bukan hanya terhadap 5% Talented People, namun terhadap 100% karyawan. Pande juga mengembangkan alat ukurnya sendiri, sehingga orisinalitas menjadi penting, dan yang bersangkutan juga tidak keberatan untuk berbagi dengan kita semua.

retno dwiyanti Says:
Dear Pak Urip,
Saya tertarik lebih jauh tentang tulisan bapak Culture and Kinerja, kami punya HR community di FMCG, kalau bapak berkenan bolehkah kami minta bapak untuk sharing dengan group tersebut ?
Thanks
Posted on December 20th, 2008 at 7:25 am
urip Says:
Dear Ibu Retno,
apa kabar? semoga sehat, sukses dan bahagia selalu.
Untuk sharing di grup HR FMCG, silakan di arrange waktu dan tempatnya, apakah pertemuan rutin grup? atau khusus, kapan?
wassalam,
urip
Posted on December 22nd, 2008 at 4:36 am