WHY HR?

Mengapa harus ada (bagian) HRD?

  • Apa sebabnya?
  • Kemana tujuannya?

Setiap organisasi perusahaan membutuhkan bagian HRD bukan sejak awal berdirinya sebuah perusahaan. Silakan saja cari dalam sejarah tumbuhnya perusahaan2 besar, tak satupun nama perusahaan akan ditemui bahwa mereka membutuhkan bagian ini sejak perencanaan awal bisnisnya.

Profile karyawan saat ini.
Banyak perusahaan mengeluhkan kondisi SDM-nya karena datanya menunjukkan hal2 seperti dibawah ini:

  1. Senior level: menghadapi masa pensiun. Mereka akan sibuk (mungkin sudah) mempersiapkan kehidupan pribadi masa tuanya masing2.
  2. Supervisor level: adakah pengganti yang kita harapkan bisa berasal dari level Supervisor saat ini untuk mengisi posisi yg ditinggalkan sang Seniornya? Tak seorangpun percaya itu akan ada, sebab lebih sering kita lupa/belum menentukan kriteria seorang pemimpin/LEADER  masa depan.
  3. 95 % staff adalah the rest level: mereka ini the followers, mengikuti saja apapun kebijakan2/perintah pemimpinnya.

What do we WANTS ?  or What do we NEEDS?

Kalau ada yang mengatakan administrasi kepersonaliaan harus dibenahi, apakah itu keinginan (WANTS) yg menjadi prioritas harus dikerjakan dulu hanya karena kita sudah terlalu kesal akan ketidak akuratan data2 administrasi kita? Data karyawan yg tak pernah akurat? Data cuti dan absensi yang tidak tepat?

Seandainya administrasi kepersonaliaan sudah beres (tertib dan rapi), data lengkap dan akurat, apakah berarti sudah tidak ada lagi yang harus dikerjakan oleh bagian HRD?

Sebenarnya, apa yang menjadi kebutuhan (NEEDS) kita, biasanya lupa/belum pernah dibicarakan bersama. Lalu apa bedanya dengan WANTS?

Seperti yang sudah tertulis di hampir semua VISI perusahaan, yg bunyinya kira-kira “To be a Leading in our Industry”.  Mengapa kita harus menjadi Leading di industri ini? Mungkin salah satu jawabnya, karena kita ingin profit yang tumbuh (Growth).

Kalau dibalik, jadi begini: Karena kita ingin Growth, maka kita harus menjadi Leading. Kalau kita lengah maka kita tidak Leading, maka bisnis akan diambil alih orang lain, akibatnya bukan hanya TIDAK Growth tapi kita bisa hilang dari bisnis ini selamanya.

Artinya, keharusan menjadi Leading menjelma menjadi KEBUTUHAN untuk menjadi Leading!

Kadang-kadang kita hanya ingin (WANTS) mengerjakan sesuatu hanya karena supaya pekerjaan kita sendiri lebih mudah, tapi mungkin bukan merupakan kebutuhan (NEEDS) dari perusahaan.

Regenerasi
Dalam konteks Growth itu, maka kita BUTUH orang2 yg kita percaya (Trust) untuk meneruskan bisnis kita ini beroperasi secara efektif (proper, faster, smarter) agar tak seorangpun pihak kompetitor sempat merebut apalagi merajai bisnis ini paling tidak di bumi Indonesia!

Kalau kita lihat SDM kita secara ringkas seperti profile di atas, maka siapakah mereka penerus kita di masa depan? Orang dalam atau orang-orang baru dari luar?

Kalau orang dari dalam, apakah kita sudah benar memberikan Coaching/Counseling atau Training sehingga mereka sanggup dan mampu meneruskan bisnis ini seperti kita mengelolanya bertahun-tahun sampai dengan saat ini?

Kalau orang dari dalam ternyata hopeless, apakah kita terus mau bertahan mengelolanya sendiri sampai kita sendiri tak mampu lagi menjalankannya?

Tak terhindarkan kita mencari orang dari luar, pendatang baru harus kita rekrut!
Siapkah metoda rekrutmen kita saat ini menjaring the best people sebagai calon pemimpin masa depan perusahaan ini?

Apakah hanya dengan mengandalkan SENSE dari senior level selama ini sudah mencukupi tuntutan men-seleksi calon-calon manajer/pemimpin masa depan?

Buktinya orang-orang sukses yang ada saat ini adalah hasil Sense kita selama ini, yang kita sering MENGELUH bahwa mereka tidak CAPABLE !

Jadi, apakah kita masih terus mau mempertahankan sistem dan cara kerja kita dalam PEOPLE DEVELOPMENT selama ini, yang kita sendiri juga mengeluhkan hasilnya?

Filed under: HRD,

4 Responses

  1. ninda Says:

    pak urip perkenalkan saya ninda salah satu mahasiswa bapak di Universitas Bakrie, saya ingin bertanya hal apa saja ya kira-kira yang harus saya persiapkan dari sekarang utk menunjang keinginan saya mendalami dunia HRD nantinya kebetulan saya baru semester 2 di UB.
    terimakasih :)

    Posted on March 25th, 2010 at 9:13 pm

  2. urip Sedyowidodo Says:

    Dear Ninda,

    waktu anda masih panjang, namun anda betul jangan sia-siakan, sehingga berpikir untuk terus mempersiapkan diri tidak bisa ditunda-tunda. salut anda sudah sampai pada taraf ini.

    namun sebelum saya jawab pertanyaan anda, jawablah bagi anda sendiri pertanyaan ini (jadi rahasia anda saja):
    1. apa yg anda maksud mempersiapkan diri?
    2. mau bersiap2 kemana? atau ingin menjadi/mendapatkan apa kelak?

    dari jawaban itu, maka persiapan anda akan lebih efektif.

    sedangan menjawab pertanyaan anda, maka:
    1. perluas wawasan tentang dunia kerja (tidak terbatas industri usaha) yang terkait bagaimana sebuah organisasi mengelola SDM (Sumber Daya Manusia)nya.

    2. identifikasi issue/problems apa saja yang terkait pengelolaan SDM itu, dari hal Pondasi pengertian ttg apa itu SDM? Perencanaan SDM, Utilisasi SDM, Pengembangan kapasitas SDM, hingga Bagaimana menanggulangi perilaku2 SDM yang bermasalah.

    3. coba memandang semua issue SDM dari sisi sudut pandang Pengusaha/Wiraswasta.

    Ok deh, sementara itu ya Ninda.
    Selamat belajar dan sukses!

    Wassalam,

    Posted on March 27th, 2010 at 7:11 pm

  3. Hendrik Says:

    Saya ingin bertanya, karena saya menemukan ada suatu perusahaan besar yang tidak memiliki HRD tetapi ada serikat pekerjanya.
    1. Bolehkah suatu perusahaan dengan lebih dari 500 orang
    karyawan tetap tidak memiliki HRD sehingga owner dapat
    intervensi langsung dalam menempatkan dan memerintahkan
    pekerjaan tanpa job discription yang jelas.?
    2. Apakah ada peraturan/undang-undang yang mengatur ini?
    Mohon jawabannya. terima kasih.

    Posted on June 2nd, 2010 at 11:06 pm

  4. urip Sedyowidodo Says:

    dear hendrik,

    1. perusahaan memiliki Bagian/Departemen HRD tidak karena besar dlm size bisnisnya, melainkan krn kebutuhan atau lebih ke kepentingan dlm hal Pengembangan SDM ybs.
    Bilamana owner langsung intervensi dimungkinkan jika ybs adalah direksi/bagian dari manajemen perusahaan tsb, tapi tidak layak memerintah di organisasi bilamana owner melakukan intervensi sbg pribadi.

    2.Owner tentu meiliki pertimbangan khusus dan biasanya demi prestasi organisasi. Bilamana owner melakukan intervensi juga berdasarkan pertimbangan pengembangan SDM, maka hal ini menjadi lebih positif.

    3. Mengenai Job Desc, kita harus memandang bahwa ini sebagai dokumen referensi, dimana jobdesc juga bersifat flkesibel/updateable dipengaruhi oleh kebutuhan bisnis, tidak sebaliknya. Maka JobDesc yg aplikatif seharusnya mengacu kepada output/target atau KPI (Key Performance Indicator) yg diturunkan dari bisnis ybs.

    4. aturan mengenai campur tangan owner, bisa ditafsirkan dari UU 13/2003, dimana mengatur penempatan sesuai kompetensi karyawan adalah hak dari manajemen.

    Salam,

    Posted on June 7th, 2010 at 1:39 am

Leave a Reply